Menjelang pilpres 2009 yang akan digelar sebentar lagi, ada peristiwa yang paling menjijikan buat saya, yaitu proses pendataan jumlah harta kekayaan capres dan cawapres negeri ini. Ada seorang pemimpin yang memiliki harta kekayaan yang menurut ukuran blogger kere seperti saya adalah nominal yang cukup membuat silau, apalagi kalau dipake untuk bikin perusahaan server dan konsultant bisnis dan sisanya ditimbun untuk tujuh turunan dan tujuh tanjakan, kayaknya gak bakal habis. Lalu apa sebenarnya yang terjadi di negeri pesakitan ini?, yang setiap lima tahun dalam memilih pemimpin-nya selalu tidak bisa belajar dan belajar.

Bangsa ini terlena pada "penampakan" yang jelas-jelas merupakan kontinuitas proses pembodohan sepanjang jaman yang tidak akan berhenti kalau bangsa ini mau belajar dari pengalaman. Apa sih sebenarnya proses pembodohan itu?. Selain dari tayangan sinetron yang merupakan puncak dari segala proses pembodohan generasi, secara kasat mata orang akan memandang bahwa dengan memilih pemimpin yang kapabel dan berkompetensi membawa perubahan pada bangsa ini adalah pemimpin yang bisa bertanggung jawab akan kepemimpinannya. Akan tetapi kenyataannya bangsa ini terlalu men-dewa-kan pemimpinnya pada sisi "glamouritas" yang berlebihan, dimana rakyat terlalu silau oleh seorang profil pemimpin yang menjadi pusat perhatian banyak partai-partai atau koalisi pendukungnya di pilpres 2009, padahal sangat disayangkan banyak yang merasa bahwa kekayaan mereka adalah suatu nilai yang wajar, yang "mungkin" dimiliki oleh seorang pemimpin yang memang sudah bekerja keras selama masa kepemimpinan-nya.

Apakah kita tidak bercermin kepada kepemimpinan Baginda Rasulullah SAW. Beliau adalah pemimpin yang patut di contoh, dan paling radikalnya lagi, beliau adalah seorang pemimpin sederhana, yang bisa merasakan lapar rakyat-nya. Beliau sangat malu apabila memiliki harta yang berlebihan sebab beliau tahu pasti akan ada pertanggung-jawabannya nanti di akhirat.

Lalu bagaimanakah pemimpin-pemimpin di dunia sekarang yang ada?. Adakah mereka bisa mencontoh suri tauladan Rasulullah ?, dari sekian pemimpin dunia yang bisa saya perhatikan, ada satu dari negera Iran, yang sangat sederhana sekali dalam memimpin negerinya.

Lain Iran lain Indonesia. Disini banyak pemimpin yang berlomba-lomba menumpuk harta sebanyak-banyaknya, kadang dengan cara dan dalil apapun untuk bisa "balik modal". Rakyat sudah jengah melihat tingkah laku politikus dan pemimpin yang tidak bisa membawa "keadilan yang hakiki" yaitu keadilan dalam kemakmuran serta kemakmuran dalam keadilan. Namun rakyat juga tidak bisa dengan arif menentukan siapa yang pantas memimpin negeri ini oleh karena proses pembelajaran politik yang sangat dikotomi oleh warisan feodal penjajahan, sehingga banyak asset-asset negara yang melayang dan berpindah tangan ke tangan asing. Akankah ada pemimpin yang bisa membeli asset asing menjadi asset negara?.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, setelah semua nilai harta kekayaan yang dimiliki para pemimpin negeri ini di publikasikan ke rakyat, akankah ada dari mereka yang lantang berbicara " Saya akan merasa malu apabila harta saya yang saya miliki sekarang, masih ada satu atau dua manusia di negeri ini yang kelaparan atau harta saya tidak akan membawa kesejahteraan bagi semua individu yang saya pimpin, bagi semua manusia yang menghirup udara kebebasan di negeri ini, bagi yang mencari nafkah di negeri ini dan yang terpenting lagi bagi siapa saja yang telah memilih saya!" ?.

Adakah pemimpin itu di negeri ini....??
Semoga bermanfaat,



Artikel yang berhubungan erat :