Jumat 17 Juli 2009, Jakarta diguncang kembali oleh teror Bom. Hampir semua media meliput kejadian yang merenggut nyawa ini, tidak terkecuali tentunya televisi. Beberapa televisi terus berusaha menyiarkan berita terbaru seputar teror bom ini dan berusaha mendapatkan gambar-gambar yang lebih aktual, yang belum disiarkan oleh televisi lain.

Di suatu malam sekitar 2 hari setelah kejadian, saya melihat televisi yang sedang menyiarkan kejadian bom mega kuningan tersebut dan tertulis besar di bagian bawah “Detik-detik Setelah Ledakan”. Saya segera menghentikan aktifitas dan memperhatikan tayangan tersebut karena ingin mengetahui detik-detik setelah ledakan yang tentunya sangat menegangkan. Baru beberapa detik menonton, saya melihat ada tanda jam pada sudut televisi yang menunjukkan jam berapa gambar yang sedang dipertontonkan diambil. Tanda waktu tersebut menunjukkan sekitar pukul 10.20, padahal bom meledak sekitar pukul 7.47 pagi. Berarti ada perbedaan waktu hampir 3 jam tetapi yang ditulis adalah “Detik-detik Setelah Ledakan”. Segera saya menghentikan menonton dan melanjutkan aktifitas.

Dalam menjual, banyak para penjual dan pebisnis yang menggunakan teknik seperti televisi tadi menayangkan berita. Penggunaan kata-kata yang Sensasional memang akan menarik perhatian banyak orang, persoalannya adalah apakah memang faktanya juga Sensasional seperti kata-katanya. Banyak para penjual, demi menghasilkan omzet atau penjualan sebanyak-banyaknya, rela memelintir fakta untuk menarik perhatian. Setelah orang tertarik, kenyataanya tidaklah seperti yang dijanjikan.

Apakah anda pernah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan melihat atau justru anda sendiri mengalami, ada seseorang yang menawarkan sesuatu benda kepada anda dan mengatakan “Silakan diambil, Gratis. Diambil saja..”. Cobalah anda ambil barang yang ia berikan, apakah memang akan Gratis diberikan begitu saja? Gratis memang iya, tetapi diberikan begitu saja? Tentu tidak. Anda akan digiring ke suatu meja atau kursi untuk kemudian dipresentasikan tentang barang-barang yang ia jual dan harganya kadang-kadang sangat fantastis dibandingkan hadiah Gratis yang ia berikan. Kalau ada orang yang menawarkan hal Gratis seperti itu dan terlihat agak mengejar, saya akan mengatakan “Saya ambil, tetapi saya langsung harus pergi, boleh?”. Biasanya ia seperti terpana dan kemudian pergi.

Menurut saya, kadang-kadang hal ini tidak bisa disalahkan 100% kepada para penjual atau salesforce, tetapi kadang-kadang pendekatan seperti ini justru dianjurkan oleh perusahaan, sebagai bagian dari teknik menjual. Kalau hal ini yang terjadi, maka yang harus dibenarkan adalah perusahaannya bukan salesforcenya.

Masa kini sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang Customer Service, Service Excellence, Selling with Integrity, Selling with Heart, Spiritual Selling dan lain sebagainya, semakin banyak pula perusahaan yang menerapkan hal-hal baik seperti ini. Akibatnya pelanggan atau konsumen sekarang mempunyai suatu referensi di benak mereka, bagaimana diperlakukan, dilayani dan dibantu dengan baik. Sehingga ketika mereka menemukan hal-hal yang mereka nilai tidak tulus, agak “menipu”, terlalu memaksa, dll, para pelanggan akan menolak hal-hal tersebut. Hal ini pada akhirnya akan membuat perusahaan dan para salesforce yang menjalankan praktek-praktek yang bombastis ini menjadi semakin sulit mencari pelanggan.

Menggunakan kata-kata Sensasional boleh-boleh saja, tetapi apakah kita memang bisa “mendeliver” apa yang kita janjikan tersebut?

Semoga artikel bermanfaat dan dapat membantu anda meningkatkan penjualan dan bisnis Anda.

sumber

Norman Firman MBA., CBA., CPI

Sales & Marketing Performance Consultant and Trainer “To Improve Result is to Change Performance”

http://www.facebook.com/l/;www.rahasiamenjual.com