Begitu banyak berita-berita tentang pemilu 2009 yang menuai protes disana-sini, namun ironisnya semua protes tersebut tidak akan mengubah hasil akhir yang akan diumumkan nanti tanggal 9 mei 2009, lalu bagaimanakah nasib partai-partai gurem dan caleg-caleg yang tidak bisa mendapat suara rakyat di pemilu kali ini?, dan apakah golput bakal tertawa terbahak-bahak kali ini melihat pemilu yang carut marut dan amburadul?


Sejak reformasi tahun 1998 digulirkan, baru kali ini saya merasakan sistem pemilu di tanah air terasa begitu banyak kekurangannya disana-sini, sehingga banyak sekali berita yang menyebutkan pemilu kali ini adalah pemilu terburuk sejak reformasi. awalnya-pun saya malas berpartisipasi, karena selain KTP saya juga tidak sama dengan tempat tinggal saya sekarang, walhasil dengan susah payah menempuh perjalanan yang lumayan jauh demi menyumbangkan suara ini kepada mereka-mereka yang saya tidak kenal..:).

Lalu dimanakah sebenarnya letak kesalahan atau kelemahan dari sistem pemilu yang berjalan sekarang ini?, apakah benar KPU tidak bisa men-sosialisasikan pemilu lebih awal, ataukah pen-distribusian surat suara yang terlambat, ataukah terlalu banyaknya partai-partai yang ikut dalam pemilu kali ini, dan yang lebih parah lagi tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang simpang siur menjelang hari H. saya pun tidak mengerti...

Namun pastinya banyak caleg-caleg yang belum bisa menerima kekalahan mereka , sehingga tidak sedikit dari mereka yang merasa frustasi dan menjadi stress, akibat tidak sedikit "modal awal" yang mereka keluarkan demi mendapatkan kursi empuk di gedung dewan sana. Atau mereka memang terlalu dini untuk mengetahui berapa sebenarnya pendapatan seorang wakil rakyat yang menurut ukuran blogger kere seperti saya adalah besar sekali.

Dan yang tidak kalah miris lagi, banyak sekali partai-partai yang medapat suara kecil (dibawah angka nol persen) yang tetap kekeuh mau ikutan pemilu di tahun-tahun berikutnya. (kok ga malu yah.., mbo' ya koalisi ajah mas...kan jadi besar partai sampeyan, trus ga nge-borosin kertas suara, lha wong jualan produk ajah pakai format ebook biar lebih ramah lingkungan, ini kok malah pake kertas, trus pakai duit rakyat pula).

Sedangkan partai-partai besar yang mendapat suara banyak, sekarang sedang ribut-ribut mengadakan koalisi dengan partai besar lainnya, alih-alih untuk persiapan pemilihan presiden nanti. Sepertinya sudah menjadi dagelan tiap 5 tahunan sekali, dimana partai-partai berkoalisi satu dengan yang lainnya demi pencalonan presiden pilihan mereka. Sah-sah saja sih mereka mencalonkan kandidat andalan mereka, namun jangan mempertaruhkan suara rakyat demi calon partai kalian, kalau nantinya kepemimpinan-nya tidak bisa membawa negeri ini kearah yang lebih baik.

Jadi hemat saya, negeri ini memang seperti negeri sandiwara, rakyat yang sudah bersusah payah memberikan suara mereka, namun para petinggi mereka sepertinya ke-asyikan dengan suara yang telah diberikan oleh rakyat yang akan mereka pimpin. Bukannya berkoalisi untuk membentuk sebuah pemerintahan yang lebih efisien dan membawa manfaat, malah sibuk mengurus kepentingan partai dulu, baru urusan rakyat.

Hhhh..Namun saya tidak merasa rugi memberikan suara saya kepada mereka-mereka yang saya percaya, bagaimana dengan anda?

Semoga bermanfaat,



Artikel yang berhubungan erat :